Popular Content

Senin, 12 November 2018

On 11/12/2018 10:50:00 PM by KSG UI   No comments

ALUR PENERIMAAN ANGGOTA BARU (PAB) KSG UI 2018

Setelah terpilih Pengurus Inti (PI) dan Badan Pengurus Harian (BPH) KSG UI 2018. Program kerja pertama yang dilakukan pada kepengurusan KSG UI 2018 adalah PAB (Penerimaan Anggota Baru) yang menjadi kesempatan bagi seluruh mahasiswa Departemen Geografi untuk ikut berkontribusi sekaligus menjadi anggota KSG UI selama satu tahun ke depan. Pada rangkaian PAB KSG UI 2018, terdapat beberapa alur yang harus dilalui oleh calon anggota KSG UI 2018 yang telah mendaftar. Alur tersebut terdiri dari tugas-tugas mulai dari pembuatan artikel, review materi pembekalan, menjawab pertanyaan terkait jurnal yang telah ditentukan sebelumnya, hingga melakukan mini research. Rangkaian alur tersebut berupa tugas individu maupun kelompok. Selain tugas, para calon anggota juga dibekali oleh beberapa materi yang disampaikan oleh para pemateri yang telah ditentukan di antaranya materi berjudul “Pemanfaatan Sumber Daya Energi dan Mineral” yang dilaksanakan pada hari Selasa, 13 Februari 2018. Materi 1 tersebut disampaikan oleh Andry Rustanto, S.Si, M.Sc. yang merupakan salah satu dosen Departemen Geografi UI. Selanjutnya, materi pembekalan ke-2 dengan tema ”Penelitian dan Penulisan” yang diselenggarakan pada tanggal 24 Februari 2018 disampaikan oleh Kak Annisa Hasanah Geografi UI 2013 yang merupakan alumni KSG UI sebagai Ketua Departemen Penulisan KSG UI 2016.
Setelah melalui beberapa alur, terpilih 44 calon anggota yang berhasil mengikuti tahap terakhir alur PAB yaitu Pelantikan Anggota Baru KSG UI 2018. Pelantikan dilaksanakan selama dua hari tepatnya pada tanggal 17-18 Maret 2018 di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Kelurahan Gunung Bunder, Bogor, Jawa Barat. Setelah beberapa kegiatan dilaksanakan, seperti memasang tenda, masak bersama anggota kelompok, presentasi tugas, malam keakraban, hingga acara puncak yaitu pelantikan, sebanyak 43 mahasiswa berhasil dilantik dan menjadi Anggota KSG UI 2018.

On 11/12/2018 10:27:00 PM by KSG UI   No comments



BUKA BERSAMA KSG UI 2018: BUKA BERBAGI

Dalam rangka menjalin silaturrahmi sesama anggota sekaligus menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, KSG UI 2018 mengadakan buka puasa bersama pada Jumat 25 Mei 2018 bertempat di Aula BSM FMIPA UI. Acara buka bersama ini juga disertai dengan penggalangan dana untuk bakti sosial di Panti Asuhan Domyadhu yang dilaksanakan pada Sabtu 26 Mei 2018. Buka bersama ini turut mengundang para alumni KSG UI.
Acara dimulai pada pukul 17.00 WIB dan dipandu oleh Fajar dan Kartika selaku pembawa acara. Acara diisi pula dengan sharing session antar angkatan maupun antar anggota aktif dengan alumni. Pada sharing session ini tidak hanya saling membagikan kesan, namun juga memberikan pesan dan masukan. Tidak lupa terdapat selingan games sebagai penghangat suasana buka bersama. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, KSG UI 2018 lebih baik lagi dan tentunya untuk meningkatkan keakraban antara anggota aktif dengan para alumni.






                   

On 11/12/2018 10:21:00 PM by KSG UI   No comments


TEAM BUILDING KSG UI 2018

Setelah pelantikan anggota baru, KSG UI 2018 mengadakan timbul (team building) yang dilaksanakan pada tanggal 22 April 2018 di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat. Para anggota KSG UI dibagi perkelompok dan diwajibkan untuk menyelesaikan clue yang diberikan panitia untuk didiskusikan dalam masing-masing kelompok. Pos-pos untuk menyelesaikan clue tersebut telah tersebar di seluruh penjuru Kebun Raya Bogor. Mulai dari menelusuri museum Zoologi, mengitari danau,  hingga mengunjungi makam Belanda. Dibutuhkan kekompakkan dan komunikasi yang baik sesama anggota kelompok. Setelah melalui pos-pos dan menyelesaikan berbagai clue, anggota KSG UI berkumpul untuk bermain games antar kelompok. Keceriaan dan canda tawa membuat para anggota KSG UI saling mengenal satu sama lain.  
Terima kasih untuk seluruh anggota KSG UI yang telah mengikuti Team Building KSG UI 2018, semoga timbul ini dapat menjadi ajang untuk mempererat kekeluargaan antara anggota KSG UI 2018.
 

Minggu, 08 Oktober 2017

On 10/08/2017 07:32:00 PM by KSG UI   No comments



Kampung Nelayan Desa Tanjung Binga
Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung
Oleh: Wahyu Widi Astuti
Kelompok Studi Geografi Universitas Indonesia

Belitung, sebuah pulau yang kini tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Pulau Belitung merupakan bagian dari Provinsi Bangka Belitung yang terletak di dekat Selat Karimata dan 3 pulau besar di Indonesia, yaitu Pulau Sumatra, Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan. Pulau Belitung terdiri dari 2 kabupaten, Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur. Kabupaten Belitung memiliki letak geografis yang strategis karena terletak di jalur perdagangan Internasional serta akses perhubungan yang baik dengan Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Singapura. Selain itu, Kabupaten Belitung  merupakan kabupaten kepulauan yang memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar untuk bidang perikanan tangkap dan budidaya. Pemerintah pusat melalui Departemen Kelautan dan Perikanan telah mencanangkan Kabupaten Belitung sebagai Etalase Pembangunan Kelautan dan Perikanan Indonesia Bagian Barat.  
Desa Tanjung Binga. Merupakan salah satu kawasan potensi perikanan dan kelautan yang cukup baik di Belitung. Lokasinya berada di sebelah barat laut Pulau Belitung. Tepatnya di Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung. Desa ini kerap kali dijuluki sebagi Desa Nelayan, karena 80% penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan atau bergerak pada sektor perikanan. Setiap harinya, kecuali pada bulan-bulan tertentu, lebih dari 12 jam nelayan-nelayan di desa ini pergi melaut untuk menangkap ikan. Biasanya mereka berangkat pada sore hari dan kemudian pulang pada pagi harinya. Nelayan di desa ini bisa dibilang juga sudah melek akan teknologi. Terlihat dari cara mereka menangkap ikan yang sudah  menggunakan bantuan alat GPS (Global Positioning System) dan FishFinder. Selain karena pengalaman yang telah diwariskan oleh orang tuanya,  dengan peralatan tersebut nelayan sudah pandai dalam membaca cuaca, angin, hingga badai.
Biasanya ikan-ikan terjaring pada waktu dini hari. Sembari menunggu waktu, nelayan mengisi waktu dengan memancing cumi-cumi. Pada waktu subuh, barulah ikan dipanen. Macam-macam ikan yang yang ditangkap, namun yang paling banyak biasanya adalah ikan teri. Kemudian ikan langsung dipisahkan berdasarkan jenis dan ukurannya. Pagi harinya, sebagian ikan diasinkan agar awet, sebagian lain di jual ke pedagang ikan atau pasar, sebagian lain dikonsumsi pribadi.  Ikan yang diasinkan biasanya langsung dijemur di atas jejeran potongan batang-batang pohon kecil  panjang yang terletak di pinggiran Pantai Tanjung Binga yang sebelahnya terdapat gubug-gubug kecil dari kayu beratapkan seng. Potongan-potongan kayu ini membentang luas di sepanjang pinggiran Pantai Tanjung Binga membuat pemandangan di pantai ini sangat cocok dengan julukannya, yaitu Kampung Nelayan. Pemandangan seperti inilah yang juga menarik para wisatawan Belitung untuk berkunjung. 

Gambar 1: Tempat penjemuran ikan Desa Tanjung Binga
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Setelah dijemur barulah ikan-ikan tersebut dijual ke pasar, ke pedagang, maupun ke usaha perumahan makanan khas belitung yang menggunakan bahan dasar ikan. Pendapatan ikan di kampung ini bisa mencapai 0,5 -1 ton ikan segar perharinya. Pemasarannya tidak hanya di sekitar Tanjung Pandan (ibukota Kabupaten Belitung) saja , namun juga diekspor hingga  ke Jakarta, bahkan ke luar negeri seperti Singapura, India, Hongkong hingga yang terbanyak ialah ke Colombia.
Yang menarik dari desa ini adalah sebagian besar penduduk di Desa Tanjung Binga merupakan warga keturunan Bugis/Makassar. Hanya sebagian kecil yang warga belitung asli. Suku Bugis/Makassar tersebut berkoloni dan membuat sebuah kampung yang oleh orang sekitar disebut dengan Kampung Makassar.  “Orang Bugis memang memiliki karakter senang untuk melaut dan menjelajah tempat-tempat baru. Orang Bugis mulai berdatangan ke Desa Tanjung Binga pada tahun 70-an dan kemudian menemukan potensi perikanan yg baik di wilayah ini, maka perlahan orang-orang Bugis mulai mengajak sanak saudaranya di Makassar sana untuk tinggal menetap di wilayah ini sampai akhirnya membentuk sebuah kampung bernama Kampung Makassar" -Tarape ( Kepala desa Tanjung Binga, generasi ke-3 suku Bugis di Tg.Binga) .

 
Gambar 2: Pemukiman di Desa Tanjung Binga
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Adapun kalau dari segi pendidikan, warga-warga desanya bisa dibilang  melek akan namanya pendidikan. Orang tua sebisa mungkin menyekolahkan anaknya hingga setinggi yang mereka mampu. Dari hasil wawancara penulis dengan responden,  minimal rata-rata pendidikannya adalah SMA meskipun mereka bermatapencaharian sebagai nelayan. Mungkin dalam lingkup satu desa, bisa dihitung jari yang pendidikannya hanya samppai SD-SMP. Wawasan mereka juga luas, terlihat dari cara mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan ketika proses wawancara.
Inilah Indonesia, negeri yang selalu punya cerita unik dan menarik disetiap sudut lokasinya. Sebuah anugrah dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang patut dijaga dari tangan-tangan jahil dan penguasa.

Sumber:
Potret Belitung Negeri Laskar Pelangi Diterbitkan oleh : Bagian Humas Pemerintah Kab. Belitung November 2013
Aroengbinang, Bambang. 2017. Kampung Nelayan Bugis di Tanjung Binga. https://www.thearoengbinangproject.com/kampung-nelayan-bugis-di-tanjung-binga-belitung/.  
Serial Indonesia Bagus Net TV Episode Pulau Belitung