Popular Content

Minggu, 08 Oktober 2017

On 10/08/2017 07:32:00 PM by KSG UI   No comments



Kampung Nelayan Desa Tanjung Binga
Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung
Oleh: Wahyu Widi Astuti
Kelompok Studi Geografi Universitas Indonesia

Belitung, sebuah pulau yang kini tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Pulau Belitung merupakan bagian dari Provinsi Bangka Belitung yang terletak di dekat Selat Karimata dan 3 pulau besar di Indonesia, yaitu Pulau Sumatra, Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan. Pulau Belitung terdiri dari 2 kabupaten, Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur. Kabupaten Belitung memiliki letak geografis yang strategis karena terletak di jalur perdagangan Internasional serta akses perhubungan yang baik dengan Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Singapura. Selain itu, Kabupaten Belitung  merupakan kabupaten kepulauan yang memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar untuk bidang perikanan tangkap dan budidaya. Pemerintah pusat melalui Departemen Kelautan dan Perikanan telah mencanangkan Kabupaten Belitung sebagai Etalase Pembangunan Kelautan dan Perikanan Indonesia Bagian Barat.  
Desa Tanjung Binga. Merupakan salah satu kawasan potensi perikanan dan kelautan yang cukup baik di Belitung. Lokasinya berada di sebelah barat laut Pulau Belitung. Tepatnya di Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung. Desa ini kerap kali dijuluki sebagi Desa Nelayan, karena 80% penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan atau bergerak pada sektor perikanan. Setiap harinya, kecuali pada bulan-bulan tertentu, lebih dari 12 jam nelayan-nelayan di desa ini pergi melaut untuk menangkap ikan. Biasanya mereka berangkat pada sore hari dan kemudian pulang pada pagi harinya. Nelayan di desa ini bisa dibilang juga sudah melek akan teknologi. Terlihat dari cara mereka menangkap ikan yang sudah  menggunakan bantuan alat GPS (Global Positioning System) dan FishFinder. Selain karena pengalaman yang telah diwariskan oleh orang tuanya,  dengan peralatan tersebut nelayan sudah pandai dalam membaca cuaca, angin, hingga badai.
Biasanya ikan-ikan terjaring pada waktu dini hari. Sembari menunggu waktu, nelayan mengisi waktu dengan memancing cumi-cumi. Pada waktu subuh, barulah ikan dipanen. Macam-macam ikan yang yang ditangkap, namun yang paling banyak biasanya adalah ikan teri. Kemudian ikan langsung dipisahkan berdasarkan jenis dan ukurannya. Pagi harinya, sebagian ikan diasinkan agar awet, sebagian lain di jual ke pedagang ikan atau pasar, sebagian lain dikonsumsi pribadi.  Ikan yang diasinkan biasanya langsung dijemur di atas jejeran potongan batang-batang pohon kecil  panjang yang terletak di pinggiran Pantai Tanjung Binga yang sebelahnya terdapat gubug-gubug kecil dari kayu beratapkan seng. Potongan-potongan kayu ini membentang luas di sepanjang pinggiran Pantai Tanjung Binga membuat pemandangan di pantai ini sangat cocok dengan julukannya, yaitu Kampung Nelayan. Pemandangan seperti inilah yang juga menarik para wisatawan Belitung untuk berkunjung. 

Gambar 1: Tempat penjemuran ikan Desa Tanjung Binga
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Setelah dijemur barulah ikan-ikan tersebut dijual ke pasar, ke pedagang, maupun ke usaha perumahan makanan khas belitung yang menggunakan bahan dasar ikan. Pendapatan ikan di kampung ini bisa mencapai 0,5 -1 ton ikan segar perharinya. Pemasarannya tidak hanya di sekitar Tanjung Pandan (ibukota Kabupaten Belitung) saja , namun juga diekspor hingga  ke Jakarta, bahkan ke luar negeri seperti Singapura, India, Hongkong hingga yang terbanyak ialah ke Colombia.
Yang menarik dari desa ini adalah sebagian besar penduduk di Desa Tanjung Binga merupakan warga keturunan Bugis/Makassar. Hanya sebagian kecil yang warga belitung asli. Suku Bugis/Makassar tersebut berkoloni dan membuat sebuah kampung yang oleh orang sekitar disebut dengan Kampung Makassar.  “Orang Bugis memang memiliki karakter senang untuk melaut dan menjelajah tempat-tempat baru. Orang Bugis mulai berdatangan ke Desa Tanjung Binga pada tahun 70-an dan kemudian menemukan potensi perikanan yg baik di wilayah ini, maka perlahan orang-orang Bugis mulai mengajak sanak saudaranya di Makassar sana untuk tinggal menetap di wilayah ini sampai akhirnya membentuk sebuah kampung bernama Kampung Makassar" -Tarape ( Kepala desa Tanjung Binga, generasi ke-3 suku Bugis di Tg.Binga) .

 
Gambar 2: Pemukiman di Desa Tanjung Binga
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Adapun kalau dari segi pendidikan, warga-warga desanya bisa dibilang  melek akan namanya pendidikan. Orang tua sebisa mungkin menyekolahkan anaknya hingga setinggi yang mereka mampu. Dari hasil wawancara penulis dengan responden,  minimal rata-rata pendidikannya adalah SMA meskipun mereka bermatapencaharian sebagai nelayan. Mungkin dalam lingkup satu desa, bisa dihitung jari yang pendidikannya hanya samppai SD-SMP. Wawasan mereka juga luas, terlihat dari cara mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan ketika proses wawancara.
Inilah Indonesia, negeri yang selalu punya cerita unik dan menarik disetiap sudut lokasinya. Sebuah anugrah dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang patut dijaga dari tangan-tangan jahil dan penguasa.

Sumber:
Potret Belitung Negeri Laskar Pelangi Diterbitkan oleh : Bagian Humas Pemerintah Kab. Belitung November 2013
Aroengbinang, Bambang. 2017. Kampung Nelayan Bugis di Tanjung Binga. https://www.thearoengbinangproject.com/kampung-nelayan-bugis-di-tanjung-binga-belitung/.  
Serial Indonesia Bagus Net TV Episode Pulau Belitung