Popular Content

Senin, 08 April 2013

On 4/08/2013 09:32:00 PM by KSG UI in    No comments

           Teknologi modifikasi cuaca (TMC) adalah upaya meningkatkan dan mempercepat jatuhnya hujan, yakni dengan cara melakukan penyemaian awan (cloud seeding) menggunakan bahan-bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air), sehingga proses pertumbuhan butir-butir hujan dalam awan akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan.

            Prinsip awal teknik ini ditemukan Vincent Schaefer pada tahun 1946 yang terinspirasi dari Irving Langmuir, yang lalu disempurnakan oleh Bernard Vonnegut. Sementara di Indonesia TMC pertama kali dikaji dan diuji pada tahun 1977 atas gagasan Presiden Soeharto (Presiden RI saat itu) yang difasilitasi oleh Prof.Dr.Ing. BJ dibawah asistensi Prof.Devakul dari Royal Rainmaking Thailand.

            Umumnya teknik ini digunakan untuk mendatangkan hujan di daerah yang tengah dilanda kekeringan. Namun TMC juga dapat dilakukan untuk mencegah banjir di wilayah dengan curah hujan tinggi. Hal inilah yang menjadi tujuan penggunaan TMC untuk Jakarta. Garam disebar di Selat Sunda, di Serang, Pandeglang, atau di Laut Jawa, sehingga awan yang ada langsung dipaksa menjadi hujan di wilayah tersebut. Hal ini membuat hujan tidak terjadi di Jakarta, dan banjir pun bisa dihindari.

            TMC pertama dilaksanakan pada 26 Januari – 25 Maret 2013. Hujan diturunkan lebih dahulu di Pandeglang, dan Jakarta terhindar dari hujan deras. Garam yang digunakan adalah Perak Iodida, dibawa sebanyak 3000 karung seberat 4 ton oleh pesawat Hercules C-130 TNI-AU dan CASA 212-200. Untuk sekali operasi biaya yang dihabiskan adalah sekitar 13 milyar rupiah. Selain menggunakan pesawat, modifikasi cuaca juga dapat dilakukan dengan menggunakan flare (roket) yang menembakkan garam ke awan.
            Namun penggunaan TMC ini bukan tanpa resiko. Daerah di sekitar Jakarta, yang tidak banjir walaupun hujan lebat, akan ikut serta mengalami penurunan curah hujan. Selain itu, daerah yang menjadi tujuan diturunkan hujan mengalami peningkatan curah hujan dan berisiko terjadi banjir, seperti wilayah Serang, Banten. Jika diturunkan di tengah laut, terdapat potensi rob. Selain itu ada yang berpendapat TMC dapat mengganggu keseimbangan ekologi. Bagaimanapun, bila terdapat pengorbanan yang dibutuhkan, selama tidak terlalu ekstrem, tetap dibutuhkan karena dilakukan demi melindungi Ibu Kota Negara dari bencana. Jika Jakarta lumpuh, maka dampaknya akan terasa hingga penjuru negeri.

            TMC memang terbukti sukses mencegah hujan deras di Jakarta, dan dampak negatif yang mungkin ada baru sebatas asumsi, namun alangkah baiknya bila dana melakukan TMC ini, yang mencapai 13 milyar sekali operasi ini digunakan untuk pembangunan waduk atau kanal. Bagaimanapun juga, TMC ini hanyalah langkah jangka pendek yang harus dilakukan terus menerus. Mungkin saat ini kita merasa biaya 13 milyar termasuk murah bila dibandingkan pembuatan waduk yang mencapai triliunan rupiah. Namun sampai kapan? Akan tiba masanya ketika biaya yang digunakan untuk TMC melewati biaya untuk pembangunan waduk. TMC memang berguna, namun sebaiknya dilaksanakan hanya ketika potensi hujan terlalu besar sehingga waduk  yang telah dibuat tetap tidak akan mampu menampungnya - ST


------------------------------


[5] Kajian Kelompok Studi Geografi UI : Teknologi Modifikasi Cuaca di Jakarta; pada Senin, 3 April 2013

0 comments:

Posting Komentar