Popular Content

Senin, 08 Februari 2016

On 2/08/2016 03:27:00 PM by KSG UI in ,    No comments
Akhir semester ganjil dan akhir dari tahun 2015 menjadi pertanda pula bagi keberakhiran kepengurusan KSG UI 2015. Sesuatu yang dibuka dengan baik harus ditutup pula dengan baik, termasuk satu tahun berjalannya KSG UI yang tentunya menyimpan banyak suka duka. Oleh karena itu, pada tanggal 29-31 Desember 2015 KSG UI 2015 mengadakan Jalan-jalan Akhir Tahun (JJAT) ke tempat istimewa yang belum banyak tersentuh oleh wisatawan. Sebuah kontinen kecil yang mengapung di atas Selat Sunda, tak tenar, namun pesonanya bak surga. Pulau Sangiang.

JJAT KSG UI 2015 : SENYUM YANG TERTINGGAL DI SANGIANG

Perjalanan
Kereta jurusan Tanah Abang-Cilegon membawa kami pada pukul 02.15 WIB. Pukul 06.30 WIB kami tiba di Stasiun Cilegon dan meneruskan perjalanan ke Pelabuhan Anyer dengan angkot yang telah dicarter. Melintasi kawasan industri Cilegon, perjalanan dengan angkot ini memakan waktu sekitar 20 menit dengan catatan lalu lintas lancar. Akhirnya tiba saatnya kami berganti dari transportasi beroda menjadi kapal motor.

Kapal motor menuju Pulau Sangiang

Peserta yang berjumlah 45 orang dibagi ke dalam 3 kapal sehingga satu kapal memuat 15 orang peserta. Kala itu gelombang laut cukup tenang. Semakin menjauhi Jawa, terlihat 4-5 kapal besar milik industri yang telah menancapkan jangkarnya.
Setelah 1,5 jam perjalanan akhirnya Pulau Sangiang tampak di depan mata. Panorama laut seketika berubah menjadi hutan mangrove yang menyajikan keelokan air hijau tosca jernih. Setelah melewati ekosistem mangrove, kami tiba di dermaga pada pukul 09.35 WIB dan langsung menuju penginapan.

Ekosistem mangrove menyambut di pintu masuk pulau

Secara administratif, Pulau Sangiang berada di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Penginapan kami berupa rumah warga lokal. Mayoritas rumah di Sangiang berbentuk panggung dan berdinding kayu, tak terkecuali penginapan kami. Berdasarkan informasi warga, Pulau Sangiang hanya dihuni oleh 54 keluarga. Permukiman yang paling ramai adalah di sekitar tempat kami menginap yang disebut dengan Kampung Sangiang, kampung ini pun dihuni tidak lebih dari 10 rumah penduduk dengan sebuah dermaga sederhana, sedangkan masih banyak rumah lain yang tersebar secara random di pelosok pulau.

Dermaga sederhana di Kampung Sangiang


Rumah penduduk

Listrik warga di kampung ini bersumber dari jenset, itulah sebabnya listrik tidak dinyalakan selama 24 jam dan diutamakan hanya untuk malam hari. Kami juga melihat beberapa rumah yang terpasang solar cell. Oh ya, sinyal telepon sangat sulit didapatkan di sini sehingga kami dapat melupakan sejenak rutinitas dari gadget. Beruntungnya bahwa di pulau ini tidak kekurangan air bersih, meskipun terasa agak payau jika dicicip. Terdapat MCK yang terletak di luar rumah yang sepertinya khusus disediakan untuk wisatawan. Selain itu terdapat satu mushola di perkampungan ini yang aktif digunakan warga sekitar untuk sholat. Ada juga warung kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari, makanan, serta kelapa muda.

Pantai Pasir Panjang
Dengan menyusuri jalan setapak sejauh ± 2 km yang dipenuhi vegetasi khas pesisir, hamparan pantai biru berpasir putih menyambut kami. Garis pantai yang melengkung serta dikelilingi oleh tebing kokoh membuat panorama yang terhampar terlihat begitu panjang, itulah mengapa disebut pantai pasir panjang. Saat itu benar-benar tidak ada wisatawan lain, sehingga kebebasan menyusuri pasir lembut dan berkejar-kejaran dengan gulungan ombak dapat dengan puas dilakukan.

Pasir Pantai Panjang

Beranjak dari spot berpasir, di ujung lainnya justru dipenuhi karang dan tebing batu curam. Mencoba mendaki hingga puncak tebing batu, pemandangan utuh Pantai Pasir Panjang tersaji secara sempurna. Posisi pantai yang menghadap ke barat menjadikan detik-detik terbenamnya matahari dapat diamati dengan jelas, bagai tenggelam ke tengah lautan. Siluet dari komplek Krakatau terlihat seiring pergerakan turunnya matahari. Namun sayangnya di sekitar tempat ini terdapat banyak sampah yang didamparkan oleh ombak.

Snorkeling
Kapal motor mengantarkan kami ke salah satu spot snorkeling, Legon Waru namanya. Waktu yang dipilih untuk snorkeling di sini adalah siang atau sore hari, karena pada saat pagi hari gelombang laut tergolong tinggi. Anggota KSG yang ingin snorkeling melengkapi diri dengan snorkeling equipment dan masuk ke dalam air untuk melihat pemandangan bawah laut Pulau Sangiang yang indah.

Snorkeling di Legon Waru

Goa Kelelawar
Kami menerobos hutan dataran rendah yang berkontur turun-naik selama 30 menit. Suara cicitan kawanan kelelawar yang bising dan aroma kotoran kelelawar yang menyengat dari dalam goa menandakan kami telah tiba di Goa Kelelawar. Goa ini merupakan habitat bagi banyak kelelawar yang terhubung langsung dengan laut lepas. Itulah sebabnya keluar deburan ombak yang telah dipecah oleh dinding-dinding goa. Karena berbahaya kita tidak dapat terlalu mendekat ke dalam goa, di samping juga karena kondisi gaoa yang cukup gelap.

Goa Kelelawar

Puncak Harapan
Melanjutkan perjalanan dari Goa Kelelawar, tujuan kami selanjutnya adalah tempat tertinggi di mana panorama laut dan pulau dapat terlihat dengan indah. Itulah Puncak Harapan, yang berada di ketinggian sekitar 20 mdpl. Dari sini terpampang luasnya lautan biru yang dihiasi tebing-tebing bibir Pulau Sangiang.


Pemandangan dari Puncak Harapan

Pantai dan Goa
Masih penasaran dengan goa yang terhubung dengan laut, kami dibawa oleh tour guide menuju spot di bawah tebing. Usaha untuk mencapai tempat ini cukup ekstrem, karena kita harus menuruni tebing setinggi sekitar 10 m dengan tali dan tangga kayu yang telah terpasang di sana. Namun usaha ini tentunya terbayar karena pantai ini memiliki ombak yang lebih besar serta goa yang terhubung dengan laut.

Goa dengan hempasan ombak

Goa ini memiliki deburan ombak yang lebih kencang dari Goa Kelelawar, suasanya pun lebih nyaman karena tidak ada kelelawar dan mendapat penerangan dari matahari. Kami dapat melihat ikan-ikan yang terseret arus dan terjebak di dalam goa. Di sekitar goa banyak terdapat karang dan batu besar. Tentu saja, kita hanya bisa menikmati dari luar mulut goa.

Gelombang Tinggi
Tiba saatnya untuk meninggalkan Pulau Sangiang. Pada pukul 07.00 WIB kami kembali menaiki kapal motor untuk menuju Pelabuhan Anyer. Baru beberapa meter perjalanan, salah satu kapal kami menabrak karang di perairan mangrove. Hal ini dikarenakan permukaan laut sedang surut sehingga kedalaman air di perairan itu cukup dangkal. Namun berkat kehandalan warga lokal selaku nahkoda, kapal bisa berjalan kembali. Ternyata gelombang tinggi telah menunggu kami begitu kapal memasuki Selat Sunda. Gulungan ombak bagai mengombang-ambing kapal beserta isinya, membuat beberapa dari kami mulai mabuk laut. Adrenalin kami semakin dipacu ketika gelombang tinggi menghantam badan kapal dan membuatnya oleng. Di sisi lain, jika kita mengamati permukaan laut tampak banyak ubur-ubur yang mungkin ikut tergulung bersama ombak. Dengan mengucap hamdalah, kami tiba di Pelabuhan Anyer dengan selamat dan melanjutkan perjalanan ke Depok dengan kereta.

KSG UI 2016
Kegiatan JJAT bukan hanya jalan-jalan, namun juga terdapat sesi evaluasi KSG UI 2015 dan pemilihan ketua KSG UI 2016. Dengan ini, seluruh anggota mendapat kesempatan untuk mengevaluasi dan menyampaikan saran-saran untuk generasi selanjutnya. Adib Ahmad Kurnia akhirnya terpilih menjadi ketua KSG UI 2016 melalui musyawarah. Semoga dengan regenerasi ini KSG UI dapat lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Peserta JJAT 2015

0 comments:

Posting Komentar