Popular Content

Rabu, 23 Maret 2016

On 3/23/2016 12:32:00 AM by KSG UI in    No comments

Analisis Kondisi Geotermal di Kawasan Parakan Salak, Kabupaten Sukabumi 
Oleh : Anjas Biki Lesmana, Cholida Firdaus, Kurniawan, Nugroho Ari, Nuraini Rahmawati, Rio Trimono
Kelompok Studi Geografi (KSG), Departemen Geografi, FMIPA UI
Tahun 2012

Pendahuluan

Wilayah Indonesia terletak pada lajur sabuk gunung api aktif yang mempunyai potensi panas bumi besar dan tersebar sepanjang lajur Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Busur Banda hingga Sulawesi Utara, dan lajur Halmahera. Pada kawasan ini telah diketahui sebanyak 276 titik potensi panas bumi dengan total potensi sebesar 29.038 MW. Dari total panas bumi tersebut, hingga saat ini baru dimanfaatkan sebesar 1.196 MW atau sekitar 4,1 persen dari total potensi. Potensi geothermal Indonesia yang sangat besar, yakni 40 persen dari cadangan geothermal di dunia ada di Tanah Air. Jika dioptimalkan akan membantu mengatasi kekurangan listrik selama ini. Hanya saja, daerah yang memiliki potensi panas bumi itu berpotensi terjadi tumpang tindih lahan dengan kawasan hutan mencapai 42 persen atau setara 12.069 MW. Hal ini menempatkan Indonesia sebagai produser listrik panas bumi terbesar ketiga didunia setelah Amerika Serikat (2.687 MW) dan Philipina (1.968 MW)2. Padahal Indonesia memiliki potensi energi panas bumi  terbesar di dunia yaitu mencapai 28.528 MW3 atau sekitar 35% dari total potensi dunia.

Bila dapat dimanfaatkan secara maksimal, geothermal dapat berpotensi mengurangi emisi CO2 lebih dari 224 juta ton CO2. Namun sayang, dalam RAN GRK yang baru saja disahkan oleh Presiden RI, Panas Bumi sebagai sumber energi untuk pembangkit listrik, belum menjadi kegiatan/sasaran utama untuk target pengurangan emisi dari sektor energi. Padahal geothermal dapat menjadi alternatif sumber energi yang ramah lingkungan
Salah satu potensi geothermal yang belum “tersentuh” adalah di kawasan Parakan Salak yang terletak di Taman Nasional Gunung Halimun Salak di Sukabumi, Jawa Barat. Di kawasan ini terdapat banyak potensi geothermal seperti Kolam Air panas, Kawah Citaman dan Kawah Anjing dan Kawah Anonim yang belum dikenal maupun dikembangkan/dikelola oleh pemerintah. Oleh karena itulah kami tertarik untuk meneliti geothermal di Parakan Salak.
  

Tujuan dan Manfaat
Tujuan yang hendak di capai dalam penelitian ini adalah untuk meneliti dan mengetahui geothermal yang terdapat di kawah-kawah Parakan Salak. Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai bahan informasi mengenai potensi geothermal di Parakan Salak

Rumusan Masalah
            Pokok permasalahan dari penelitian ini adalah bagaimana kondisi serta analisis dari energi panas bumi yang terdapat di Parakan Salak

Tinjauan Pustaka
Energi panas Bumi adalah energi yang diekstraksi dari panas yang tersimpan di dalam Bumi. Energi panas Bumi ini berasal dari aktivitas tektonik di dalam Bumi yang terjadi sejak planet ini diciptakan. Panas ini juga berasal dari panas matahari yang diserap oleh permukaan Bumi. Energi ini telah dipergunakan untuk memanaskan (ruangan ketika musim dingin atau air) sejak peradaban Romawi, namun sekarang lebih populer untuk menghasilkan energi listrik. Sekitar 10 Giga Watt pembangkit listrik tenaga panas Bumi telah dipasang di seluruh dunia pada tahun 2007, dan menyumbang sekitar 0.3% total energi listrik dunia. Energi panas Bumi cukup ekonomis dan ramah lingkungan, namun terbatas hanya pada dekat area perbatasan lapisan tektonik. Pembangkit listrik tenaga panas Bumi hanya dapat dibangun di sekitar lempeng tektonik di mana temperatur tinggi dari sumber panas Bumi tersedia di dekat permukaan.
Dari hasil survey dilaporkan bahwa di Indonesia terdapat 217 prospek panasbumi, yaitu di sepanjang jalur vulkanik mulai dari bagian Barat Sumatera, terus ke Pulau Jawa, Bali, Nusatenggara dan kemudian membelok ke arah utara melalui Maluku dan Sulawesi. Survey yang dilakukan selanjutnya telah berhasil menemukan beberapa daerah prospek baru sehingga jumlahnya meningkat menjadi 256 prospek, yaitu 84 prospek di Sumatera, 76 prospek di Jawa, 51 prospek di Sulawesi, 21 prospek di Nusatenggara, 3 prospek di Irian, 15 prospek di Maluku dan 5 prospek di Kalimantan. 
Sistim panas bumi di Indonesia umumnya merupakan sistim hidrothermal yang mempunyai temperatur tinggi (>225oC), hanya beberapa diantaranya yang mempunyai temperatur sedang (150225oC). Terjadinya sumber energi panasbumi di Indonesia serta karakteristiknya dijelaskan oleh Budihardi (1998) sebagai berikut. Ada tiga lempengan yang berinteraksi di Indonesia, yaitu lempeng Pasifik, lempeng IndiaAustralia dan lempeng Eurasia. Tumbukan yang terjadi antara ketiga lempeng tektonik tersebut telah memberikan peranan yang sangat penting bagi terbentuknya sumber energy panas bumi di Indonesia. Tumbukan antara lempeng IndiaAustralia di sebelah selatan dan lempeng Eurasia di sebelah utara mengasilkan zona penunjaman (subduksi) di kedalaman 160 210 km di bawah Pulau Jawa Nusatenggara dan di kedalaman sekitar 100 km (Rocks et. al, 1982) di bawah Pulau Sumatera. Hal ini menyebabkan proses magmatisasi di bawah Pulau Sumatera lebih dangkal dibandingkan dengan di bawah Pulau Jawa atau Nusatenggara. Karena perbedaan kedalaman jenis magma yang dihasilkannya berbeda. Pada kedalaman yang lebih besar jenis magma yang dihasilkan akan lebih bersifat basa dan lebih cair dengan kandungan gas magmatic yang lebih tinggi sehingga menghasilkan erupsi gunung api yang lebih kuat yang pada akhirnya akan menghasilkan endapan vulkanik yang lebih tebal dan terhampar luas. 
Oleh karena itu, reservoir panas bumi di Pulau Jawa umumnya lebih dalam dan menempati batuan volkanik, sedangkan reservoir panas bumi di Sumatera terdapat di dalam batuan sedimen dan ditemukan pada kedalaman yang lebih dangkal. Sistim panas bumi di Pulau Sumatera umumnya berkaitan dengan kegiatan gunung api andesitisriolitis yang disebabkan oleh sumber magma yang bersifat lebih asam dan lebih kental, sedangkan di Pulau Jawa, Nusatenggara dan Sulawesi umumnya berasosiasi dengan kegiatan vulkanik bersifat andesitisbasaltis dengan sumber magma yang lebih cair.

Metodologi Penelitian

Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang didapat dengan cara mengamati dan meneliti secara langsung kawah-kawah yang terdapat di Parakan Salak Sukabumi.

Metode Pengambilan Sampel
Dalam penelitian ke daerah Paranakan Salak yang diadakan oleh Kelompok Studi Geografi. Kami meneliti beberapa objek, seperti hot spring, dan tiga kawah yang berada di paranakan salak. Dalam penelitian ini kami menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan metode random sampling. Dimana kami mengambil sample secara acak untuk kami teliti.
            Dalam penelitian kami di hot spring dan 3 kawah ( kawah citaman, kawah anonym, dan kawah anjing). Kami meneliti suhu air di masing-masing tempat, mengukur ph, dan menentukan batas-batas daerah tersebut. Dengan susunan metodenya.

Variable terikat           :           1. Air hots spring
                                                2. Air kawah (citaman, anonim, anjing)
Variable bebas             :          1. Alat-alat penelitian
                                                2. Batas-batas daerah
Alat-alat                      :           1. Termometer alkohol
                                                2. Kertas lakmus
                                                3. Kompas
                                                4. Alat tulis
                                                5. GPS

Langkah-langkah penelitian :

  • Mengambil sample secara acak, kami mengukur suhu air dari keempat tempat penelitian, menentukan batas-batas daerah, dan mengukur ph dari sample penelitian.
  • Mendata, menulis, dan mendokumentasikan hasil penelitian yang didapat dari sample-sample yang ada.

Hasil dan Pembahasan
Lokasi Penelitian










 
 Tabel Perbandingan :
No.
Objek
Suhu
Elevasi
PH
Vegetasi
1.
Kolam Air Panas
41oC
971 m
8
Paku  & Ketapang
2.
Kawah Citaman
73 oC dan 95 oC
1189 m
2
Vegetasi berdaun duri
3.
Kawah Anonim
45 oC dan 80 oC
1218 m
4
Didominasi tanaman Paku
4.
Kawah Anjing
80 oC
1249 m
2,3 dan 4
Didominasi tanaman Paku

Berdasarkan tabel di atas, dapat terlihat adanya perbedaan suhu dan Ph air. Perbedaan ini disebabkan adanya perbedaan ketinggian masing-masing kawah. Pada Kolam Air Panas dengan ketinggian 971 m memiliki suhu air 41oC sedangkan pada Kawah Anjing dengan ketinggian 1249 m memilki suhu air 80oC. Ini membuktikan semakin tinggi kedudukan suatu tempat akan semakin tinggi pula suhu nya. Dengan begitu suhu air berbanding lurus dengan ketinggian suatu tempat. Sedangkan Ph air berbanding terbalik dengan ketinggian suatu tempat. Ini dapat dilihat pada Ph Kolam Air Panas yaitu 8 di ketinggian 971 m dibandingkan dengan Ph Kawah Anjing yaitu 2 di ketinggian 1249 m.  
Kawah Anjing di Parakan Salak, Sukabumi
            Terdapat beberapa manifestasi geothermal di Parakan Salak, di antaranya mudpool, geyser, dan hot water reservoir. Kolam Air Panas merupakan hot water reservoir, sedangakan Kawah Citaman dan Kawah Anjing merupakan manifestasi dari mudpool. Manifestasi geothermal di permukaan diperkirakan terjadi karena adanya perambatan panas dari bawah permukaan atau karena adanya rekahan-rekahan yang memungkinkan fluida geothermal (uap dan air panas) mengalir ke permukaan.
            Kawasan Parakan Salak memiliki keanekaragaman flora yang tinggi. Tutupan hutan di taman nasional ini dapat digolongkan atas 3 zona vegetasi:
  • Zona perbukitan (colline) hutan dataran rendah, yang didapati hingga ketinggian 900 – 1.150 m dpl.
  • Zona hutan pegunungan bawah (submontane forest), antara 1.050 – 1.400 m dpl; dan
  • Zona hutan pegunungan atas (montane forest), di atas elevasi 1.500 m dpl.
Pada ketinggian antara 1000-1400 mdpl (zona sub-montana ) terdapat beberapa jenis tumbuhan , seperti Acer laurinum, ganitri (Elaecarpus ganitrus), Eurya acuminatissima), buni (Antidesma bunius), beringin (Ficus spp), kayu manis (Cinnamomun sp.), kileho (Saurauia pendula), dan kimerak (Weinmania blumei).
Selain itu terdapat sekitar 75 jenis Anggrek yang diantaranya merupakan jenis langka, seperti Bulbophylum binnendykii, B. angustifolium, Cymbidium ensifolium, dan Dendrobium macrophyllum.
Namun berdasarkan pengamatan kami di lapangan, semakin tinggi ketinggian akan semakin rendah keanekaragaman flora nya.

Kesimpulan
  • Kawasan Parakan Salak memiliki potensi geothermal namun belum dimanfaatkan secara maksimal
  • Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan suhu air pada kawah yang disebabkan perbedaan ketinggian dimana suhu air berbanding lurus dengan ketinggian.
  • Perbedaan Ph air di kawah juga diakibatkan adanya perbedaan ketinggian dimana Ph air berbanding terbalik dengan ketinggian.
  • Manifestasi geothermal yang terdapat di Parakan Salak adalah hot water reservoir, geyser, dan mudpool.
  • Keanekaragaman flora di Parakan Salak akan semakin berkurang seiring bertambahnya ketinggian. Flora yang dominan di Parakan Salak adalah tanaman paku.

Daftar Pustaka
  • Departemen Kehutanan Republik Indonesia, 2007, Buku Informasi 50 Taman Nasional di Indonesia seri KWS-II.02.
  • Wibowo, Adi. 2008, Distribution of Geothermal Manifestation in Parakan Salak, West Java. Prosiding ACRS 2008
  • Saptadji, Neni , Energi Panas Bumi (Geothermal Energy) Materi Kuliah Panas Bumi ITB. Bandung


0 comments:

Posting Komentar