Popular Content

Rabu, 02 Maret 2016

On 3/02/2016 08:25:00 AM by KSG UI in    No comments

Tentunya sebagai mahasiswa Geografi kita telah sering mendengar bahwa lapangan adalah laboratorium bagi Geografi. Mengapa turun ke lapangan begitu penting bagi seorang geograf? Pada saat itu panca indera kita dapat menangkap secara langsung fenomena-fenomena alam dan bagaimana manusia di sana dapat bersinkronisasi dengan kondisi tersebut. Beruntungnya terdapat mata kuliah Kuliah Kerja Lapang yang mewadahi mahasiswa Geografi UI untuk melakukan penelitian lapangan dengan menerapkan ilmu yang telah didapat selama perkuliahan. Pada penghujung tahun 2015 kemarin, masih lekat di ingatan kita akan KKL yang terlaksana sehari setelah pelaksanaan 7th Annual Geography Days. Ya, itulah KKL 2 yang diikuti oleh 116 orang mahasiswa Geografi UI angkatan 2013 dan 2 orang angkatan 2012. Pada kesempatan tersebut, kami –peserta KKL –menapak ke bumi Jawa bagian tengah, yaitu Kabupaten Semarang.

TEMA
Tujuan utama KKL 2 ini adalah melakukan penelitian dengan tema besar “Pengaruh Variasi Keruangan terhadap Kualitas Hidup Penduduk”. Tema ini memadukan unsur fisik dan manusia, di mana peserta harus mencari tahu korelasi variasi kondisi fisik dari suatu wilayah dengan kualitas hidup penduduk. Kualitas hidup bisa diukur melalui parameter pendapatan, kesehatan, pendidikan, dll.

GEOMER DAN WAKTU PELAKSANAAN
Wilayah penelitian dalam KKL 2 ini dibatasi pada Kecamatan Banyubiru dan Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Geomer tersebut berbatasan dengan Rawa pening di bagian Utara dan Gunung Merbabu di bagian Selatan. Peserta KKL 2 terdiri dari 4 kelas dengan masing-masing kelas membuat kelompok yang terdiri dari 4-5 orang. Dalam satu kelas, tiap kelompok memiliki region yang berbeda, di mana satu region terdiri dari 3-4 desa dalam satu kecamatan yang sama.
KKL 2 ini berlangsung pada tanggal 1-6 November 2015. Perjalanan diawali dari meeting point di depan 7-eleven Pondok Cina sekitar pukul 08.00 WIB. Kami meluncur ke Kabupaten Semarang dengan menumpangi Bus Handoyo. Perjalanan memakan waktu sekitar 13 jam dan pada pukul 21.15 WIB kami tiba di basecamp yang berada di Desa Polobogo, Kecamatan Getasan.

AKTIVITAS
Waktu untuk melakukan penelitian adalah 3 hari, yaitu pada 2-4 November 2015. Tiap kelompok menggunakan waktu tersebut untuk mengumpulkan data primer selengkap mungkin. Dalam melakukan survei lapangan, tiap region menyewa satu buah pick up beserta supirnya untuk mengantar kelompok ke tempat-tempat yang dibutuhkan. Pada awal tahap pengumpulan data, umumnya tempat yang pertama disambangi adalah kantor desa setempat. Selain untuk meminta izin melakukan penelitian, kami meminta data kependudukan dan menggali informasi penting yang dapat diketahui dari para petinggi desa.
Metode in-depth interview dilakukan oleh semua kelompok untuk mengetahui kualitas hidup penduduk yang menjadi sasaran penelitian. Kemampuan berbahasa lokal sangat diperlukan pada tahap ini karena tidak semua responden/informan terbiasa berbahasa Indonesia.

KEGIATAN MALAM HARI
Setiap harinya mahasiswa harus membuat progres dari survei lapang yang telah dilakukan. Jika pada siang hari semua kelompok sibuk berkeliling mencari data, maka malam hari adalah saatnya data-data tersebut didiskusikan oleh sesama anggota kelompok hingga menghasilkan output berupa jurnal lapangan dan presentasi. Jurnal lapangan sangat penting untuk mencatat detail kegiatan dan informasi yang diperoleh setiap harinya. Pada malam tanggal 4 November 2015, terdapat perwakilan kelompok yang melakukan presentasi di Aula Desa Polobogo, disaksikan oleh Kepala Desa Polobogo dan seluruh peserta KKL 2.

JALAN-JALAN
Sambil menyelam minum air, penelitian yang dilakukan tidaklah bisa dilepaskan dari unsur jalan-jalan. Terlebih lagi apabila judul penelitian yang kita lakukan menuntut kita untuk menyusuri daerah-daerah yang unik. Dapat dibilang bahwa semakin banyak tempat yang kita kunjungi, semakin bertambah pengetahuan yang kita dapatkan. Berikut ini kumpulan beberapa objek yang dikunjungi oleh selama KKL 2.

1. Rawa Pening dan Bukit Cinta
Rawa Pening mencakup merupakan danau alami yang berada pada ketinggian 462-463 mdpl dengan luas ± 2670 ha. Rawa pening menerima inflow dari 9 buah sungai. Selain dari hujan dan sungai, dipercaya Rawa Pening memiliki sumber mata air sendiri dari dalam tanah yang dapat dilihat apabila kita mendekat hingga ke tengah danau.

Rawa Pening dalam kawasan wisata Bukit Cinta

Rawa Pening telah mengalami eutrofikasi sehingga banyak ditumbuhi tanaman air eceng gondok. Keberadaan eceng gondok ini memicu munculnya mata pencaharian yang memanfaatkan eceng gondok sehingga memiliki nilai ekonomi. Dari segi pariwisata, Rawa Pening berada di dalam kawasan wisata Bukit Cinta yang temasuk dalam Kecamatan Banyubiru. Bukit Cinta ini menawarkan pemandangan Rawa Pening dengan background berupa perbukitan dan Gunung Telomoyo, selain itu juga ada wisata perahu untuk mengelilingi Rawa Pening.

2. Desa Wisata Kopeng
Desa Kopeng berada di Kecamatan Getasan. Desa ini memiliki daya tarik wisata berupa suasana sejuk pedesaan, wahana rekreasi, serta hasil perkebunan organik.

3. Ketep Pass
Penasaran ingin melihat panorama Gunung Merbabu bersanding dengan gagahnya Gunung Merapi? Di sinilah tempatnya. Ketep Pass berada di puncak Bukit Sawangan, Kabupaten Magelang. Kita akan disajikan dengan kenampakan dua gunung ini dalam satu garis lurus, ditambah dari ketinggian 1200 mdpl ini kita akan mendapat jangkauan pandang yang lebih luas.
Pemandangan dari Ketep Pass

Area Ketep Pass dilengkapi dengan fasilitas Museum Vulkanologi yang berisi berbagai pengetahuan tentang gunungapi serta informasi seputar Gunung Merapi, bioskop mini, serta teropong.
Replika Gn. Merapi di dalam Museum Vulkanologi

4. Candi Gedong Songo
Hari terakhir KKL pada 5 November 2015 ditutup dengan berwisata ke Candi Gedong Songo. Seperti biasa, dengan pick up region kami meluncur melintasi medan yang cukup bergelombang. Candi Gedong Songo terletak di lereng Gunung Ungaran, tepatnya di Kecamatan Bandungan. Sesuai namanya, candi ini merupakan komplek yang terdiri dari 9 komplek candi. Namun karena kerusakan yang terjadi seiring berjalannya waktu, sekarang hanya tersisa 5 komplek candi.
Layaknya hiking, untuk menempuh semua komplek candi dibutuhkan stamina yang kuat karena jalurnya cukup jauh dan medannya tidak landai. Selama menempuh perjalanan kita bisa menikmati pemandangan Gunung Ungaran, bahkan menyaksikan dari dekat lubang kepundan yang masih aktif menyemburkan asap belerang.
Sepulangnya dari Candi Gedong Songo, kami singgah di Pasar Bandungan untuk membeli oleh-oleh khas Semarang dan Jawa. Kemudian pada malam harinya, kami bersiap untuk kembali ke Depok dan berpamitan kepada Kepala Desa Polobogo serta masyarakat sekitar yang telah banyak membantu pelaksanaan KKL 2 ini.

Mahasiswa Geografi UI Peserta KKL 2 Tahun 2015

0 comments:

Posting Komentar