Popular Content

Senin, 28 Maret 2016

On 3/28/2016 11:12:00 AM by KSG UI in , ,    No comments
Internet of Things (IoT) merupakan fenomena teknologi yang tengah terjadi di seluruh dunia. Semenjak makin membuminya smartphone dan internet, semua kegiatan manusia seakan dapat dipermudah dengan adanya integrasi antara berbagai device. Simpelnya, anything that can be connected, will be connected. Berawal dari IoT, mulai tumbuhlah sejumlah aplikasi yang menerapkan konsep lokasi dalam geografi. Para pengembang start-up mulai memahami bahwa aplikasi geografis sangat berarti, karena setiap orang pasti pernah berpikir seperti ini: Where is that? how to get there?

Dilandasi oleh ketertarikan akan fenomena tersebut, pada hari Rabu 23 Maret 2016 Kelompok Studi Geografi (KSG) UI bersama dengan Here Maps Indonesia dan Peta Jakarta mengadakan seminar bertajuk “Workshop on Mapping Technology Update”. Acara ini berlangsung pada pukul 09.00 -14.00 WIB di Ruang Geo Seminar Lt 1 Gedung Departemen Geografi FMIPA UI. Seminar yang dihadiri oleh 32 orang peserta ini sekaligus menandakan terjalinnya kerja sama antara Departemen Geografi UI dengan Here Map Indonesia.

Dr. Tito latif Indra, M.Si mewakili Dept. Geografi UI mengesahkan kerja sama dengan Here map Indonesia

Pembicara dari Here Maps Indonesia, Alam Primanda memberikan pencerahan tentang teknologi pemetaan terkini. Berkembangnya teknologi pemetaan sebanding dengan kebutuhan dunia akan geo-information yang semakin besar. Lihatlah, hampir semua aplikasi memiliki fitur positioning yang dapat berguna sebagai parameter distribusi para konsumen. Atau bagi orang kekinian, ketika ditanya mengenai posisinya saat itu maka ia akan menjawabnya dengan lokasi absolut yang dapat ia peroleh lewat fitur share location. Bagi para pencari alamat pun kini telah banyak terbantu dengan adanya aplikasi maps yang dapat memandu mereka sampai ke lokasi tujuan, bahkan dapat melihat situasi spasial di sekitarnya. 

Fitur-fitur tersebut tentunya merupakan pengembangan dari Global Positioning System (GPS) dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Berbagai kemudahan tersebut tidak dapat dilepaskan dari peranan data spasial. Data spasial adalah data yang yang berorientasi geografis dan memiliki referensi berupa sistem koordinat tertentu. Salah satu kegiatan yang sedang digencarkan oleh para pengembang aplikasi maps adalah pengumpulan data spasial secara lengkap. Hal ini menjadi trend baru di mana banyak kegiatan pemetaan digital yang dilakukan baik oleh perorangan ataupun kelompok. Untuk mencapai kelengkapan data spasial tersebut munculah pendekatan berbasis mapping community. Pendekatan ini memungkinkan setiap individu yang ingin berpartisipasi dalam pengumpulan data spasial dapat tergabung ke dalam komunitas yang memiliki tujuan sama. Semakin banyak orang yang berpartisipasi, semakin lengkap data yang diperoleh serta semakin efisien dalam hal waktu dan tenaga. Data yang dikumpulkan meliputi jaringan jalan dan fasilitas publik. Biasanya kegiatan pengumpulan data dalam community mapping ini menawarkan simbiosis mutualisme kepada mapper-nya, karena segala biaya untuk mencapai wilayah survei akan dibiayai oleh pihak penyelenggara program tersebut, seperti yang ditawarkan oleh Here Maps community program. Kegiatan seperti ini dapat menjadi sarana belajar dan pengembangan diri, terutama bagi mahasiswa geografi tentunya.

Satu lagi teknologi pemetaan yang tidak kalah menarik adalah tampilan peta secara 3D. Fitur-fitur yang ditampilkan melalui peta ini dapat berupa jaringan jalan, bangunan, dan objek-objek lainnya yang dapat dilihat dari sudut pandang 360o. Teknologi ini dikenal dengan istilah street view. Proses pengumpulan data street view digunakan dengan kamera yang dipasang di atas mobil, di mana mobil itu nantinya akan menyusuri jalan di kota-kota. Kamera yang digunakan akan memotret jalan dari banyak sudut berbeda berdasarkan geometri tertentu. Setelah perekaman selesai, penyatuan gambar dilakukan untuk menghasilkan foto dengan panorama 360o. Fitur ini sangat membantu untuk keperluan navigasi.

Drone
Metode pemetaan lain yang sedang hits akhir-akhir ini adalah melalui foto udara dengan pesawat tanpa awak/ Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau yang kerap disebut orang-orang sebagai ‘drone’. Materi drone ini dibawakan oleh Frank Sedlar, peneliti dari Peta Jakarta. 

Jarot Mulyo Semedi, M.Si memberikan plakat kepada Frank Sedlar

Drone dapat menjawab masalah kesulitan aksesibilitas di wilayah pengamatan, karena dapat dikendalikan dari jauh menuju wilayah-wilayah yang ekstrim dan unreachable. Teknologi pemetaan lewat udara ini telah mengalami perkembangan yang sangat cepat. Awalnya, wahana-wahana yang dilakukan untuk pemetaan udara masih konvensional. Mulai dari burung yang dipasangi kamera hingga menggunakan balon udara, di mana metode ini masih terkendala berbagai hal karena sulit untuk dikendalikan. Kini drone telah menggantikan metode konvensional tersebut. Drone dikenal oleh banyak kalangan karena keefektifannya untuk melakukan pemantauan udara dalam skala kecil, namun detail. Dibandingkan citra satelit, drone dapat menyediakan data yang lebih baik karena melakukan perekaman permukaan bumi tanpa gangguan awan. Kualitas dan resolusi citra yang dihasilkan drone tergantung pada ketinggian terbang serta jenis dan karakteristik sensor. Sensor yang paling umum digunakan adalah kamera digital. Pemantauan udara oleh drone lebih dikembangkan untuk monitoring lahan pertanian dan untuk bidang kebencanaan, seperti pemodelan dampak banjir.

Suasana seminar

Kemajuan teknologi pemetaan ini akan terus berkembang. Mungkin beberapa tahun ke depan peta akan memiliki tampilan yang menyerupai kondisi sebenarnya. Semakin jelas dan semakin mudah digunakan. Sebagai seorang geograf, kita dapat menjadikan ini sarana untuk meningkatkan kompetensi. Meskipun banyak orang yang dapat membuat dan menggunakan teknologi pemetaan, geograf seharusnya selangkah lebih unggul karena memiliki kemampuan analisis spasial. Tinggal bagaimana kita mencoba mengambil peran di dalamnya, bukan menjadi pengguna semata. 

0 comments:

Posting Komentar