Popular Content

Minggu, 10 April 2016

On 4/10/2016 01:17:00 AM by KSG UI in ,    1 comment
Oleh: Andiar Rasheed Setiadi (Geografi UI 2014)

Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan atau lebih dikenal sebagai Pangkep merupakan sebuah kabupaten yang terletak di Sulawesi Selatan. Kabupaten yang wilayah terbagi dua secara geografis, daratan dan kepulauan, menjadi tempat tujuan saya yang ikut sebagai “mahasiswa geografi” didalam rombongan kelompok peneliti masalah kemaritiman (illegal fishing) di Indonesia. Rombongan ini sendiri terdiri dari om Rinto, om Dedi, dan ayah saya. 

Pada awalnya saya memiliki agenda tersendiri dalam perjalanan ini. Karena ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Sulawesi, dan saya lebih tertarik untuk berjalan sendiri dan melihat-lihat juga mungkin mempelajari kebudayaan masyarakatnya secara umum disana. Walaupun baru sembuh dari flu berat dan bulan puasa menjadi kombinasi yang menghambat agenda pribadi saya, mendengarkan hampir semua diskusi dan mengikuti agenda tim rombongan ini ternyata menjadi hal yang lebih menarik untuk saya.

Berangkat pukul 8 pagi WIB. Kami tiba di Bandara Sultan Hasanuddin sekitar pukul 11 WITA. Karena merupakan daerah pesisir, cuaca disini sangat panas walaupun angin tidak jarang juga berhembus. Setelah kurang lebih menunggu 20 menit di bandara, kami dijemput oleh pak Gafar dan pak Haslul, dua orang dari kantor bupati yang akan menjadi penghubung sekaligus pemandu rombongan kami dan masyarakat di Pangkep. Tidak ada agenda pada hari pertama selain pergi ke penginapan dan menyusun agenda untuk hari kedua.

Angin yang kencang dan udara yang dingin saat menaiki sebuah perahu dalam perjalanan kami menuju Pulau Podang-Podang di hari kedua membuat perut saya sakit sehingga kami harus mendarat “darurat” di Pulau Karangrang (yang kemudian ayah saya beritahu menjadi salah satu cara khas orang-orang antropologi untuk masuk ke sebuah daerah dan mulai berinteraksi dengan masyarakatnya). Setelah mencari WC umum, saya menemui bahwa ayah saya dan tim peneliti telah berkumpul di sebuah pos siskamling, berdiskusi bersama masyarakat disana yang jumlahnya perlahan bertambah selama diskusi berlangsung. Selesai mengambil beberapa foto, saya pun akhirnya mulai benar-benar mendengarkan diskusi yang berlangsung. Masyarakat di Pulau Karangrang kebanyakan merupakan nelayan teripang, mereka menggunakan kompresor saat menyelam sebagai alat bantu pernafasan. Alat yang sebenarnya membahayakan kesehatan mereka akan tetapi juga alat yang menghidupkan mereka itu sekarang telah disita oleh pihak berwenang. 

Mendarat 'darurat' di Pulau Karangrang

Pak Lanam, seorang nelayan disana yang mendapatkan namanya karena berjari enam di tangan kanannya, bercerita bahwa ia merasa kesehatannya baik-baik saja walaupun sudah melakukan pekerjaan ini selama 20 tahun dan menggunakan kompresor. Pak Lanam menambahkan, bahwa penyakit dan kematian semua bergantung di tangan Tuhan di tangan Allah. Ia dan nelayan-nelayan lain yang ikut berdiskusi tidak mengerti apa yang salah dari menggunakan kompresor sehingga alat itu disita pihak berwenang setempat sehingga mereka tidak bisa melanjutkan pekerjaannya. Diskusi berlanjut seputar penggunaan kompresor dan illegal fishing yang dianggap dilakukan oleh nelayan-nelayan disana. 

Diskusi di Pos Siskamling

Pulau kedua yang kami datangi adalah Pulau Podangpodang. Sama seperti di Pulau Karangrang, masyarakat di Pulau Podangpodang yang juga merupakan nelayan dianggap telah melakukan illegal fishing dan merusak lingkungan dengan menggunakan alat pancing bernama cantang. Saat perahu kami sudah semakin dekat ke tempat melabuh, saya terkagum-kagum saat melihat keindahan alamnya. Airnya sangat jernih, hingga saya bisa melihat karang-karang dibawahnya. Perahu-perahu yang ditambatkan-pun terlihat seperti melayang karena jernihnya air disini. Kami disambut oleh seorang warga disana, yang sayang sekali saya lupa namanya. Berjalan melewati sebuah jembatan kayu yang cukup panjang dari tempat kapal berlabuh, kami masuk kedalam pemukiman.

Pulau Podangpodang

Pada mulanya, diskusi yang terjadi hampir sama seperti di Pulau Karangrang. Hanya diikuti oleh beberapa orang. Namun, setelah kami ibadah dzuhur, rumah yang menjadi tempat diskusi dipenuhi oleh puluhan orang dan diskusi yang tadinya sangat santai berubah menjadi sedikit formal. Dalam diskusi ini saya mendengarkan keluhan-keluhan yang dialami masyarakat disana. Pada umumnya permasalahan mereka sama. Saat ini mereka tidak bisa lagi mencari ikan karena peralatan yang disita. Diskusi berputar pada topik cantang sebagai alat yang mereka gunakan dan kondisi mereka yang saat ini mereka anggap kritis, bahkan salah seorang ibu yang mengikuti diskusi sampai menangis ketika menceritakan betapa sulit membiayai kebutuhan keluarganya saat ini. Aneh, karena saya melihat berbagai macam perhiasan yang melekat di tubuhnya. Rumah yang menjadi tempat diskusi ini bahkan memiliki dua televisi!

Namun tujuan rombongan tim peneliti disini bukan untuk menilai seberapa buruk kondisi keuangan masyarakatnya, akan tetapi menjadi jembatan dan mencari titik temu antara masyarakat dan peraturan yang dibuat oleh pemerintah, dan saya hanya menjadi pengamat yang sedang belajar terjun kelapangan. Ketika hari sudah mulai sore, kami mengakhiri diskusi dan kembali lagi ke daratan karena sudah berjanji untuk berbuka puasa bersama Kapolres Pangkep.

Pukul setengah enam sore saya, ayah saya, om Dedi, dan Pak Gafar sudah tiba di kediaman Pak Hidayat, Kapolres Pangkep. Sambil menunggu adzan maghrib, Pak Hidayat sudah mempertontonkan kami dengan video-video dokumenter yang dibuatnya mengenai kasus illegal fishing yang terjadi di Pangkep. Dari caranya berbicara dan bercerita tentang apa yang sudah ia lakukan baik yang direkam video-video tersebut maupun yang tidak, saya dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa Pak Hidayat sangat bangga dan percaya diri. Dengan suaranya yang menggelegar namun santai, ia menceritakan bahwa apa yang masyarakat di pulau-pulau yang telah kami kunjungi sepenuhnya salah. Tidak ada kompromi. Ini adalah cerita dari sisi lain, dari pihak yang berwenang, dari sisi hukum. 

Setelah mendengarkan diskusi dengan Pak Hidayat yang terkesan sangat “hitam-putih” dan ikut turun ke lapangan melihat kenyataan yang terjadi di Pulau Karangrang dan Podangpodang, saya baru benar-benar menyadari bahwa sebuah penyelesain akan suatu masalah di dunia nyata lebih rumit dari teori-teori diatas kertas. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi, dari hal-hal eksak seperti hukum, hingga hal-hal yang fleksibel seperti kebudayaan. Kondisi ekonomi, ilmu pengetahuan, ritual-ritual, letak geografis, dan beragam macam hal lain yang muncul saat saya berdiskusi berdua dengan ayah saya di bandara sebelum kembali ke Jakarta merupakan hal-hal yang sebelumnya tidak atau kurang saya perhatikan saat melakukan sebuah perjalanan ini. Bahkan saat menulis tulisan ini, saya masih terus memikirkan dan meraba faktor-faktor tersebut. 

Dua-tiga hari memang waktu yang sangat sedikit untuk melihat Pangkep, namun pengalaman yang saya dapatkan merupakan pelajaran yang sangat penting, memberikan sudut pandang baru dan bahkan menginspirasi banyak hal untuk agenda dalam perjalanan-perjalanan saya berikutnya.

1 komentar:

  1. Walaupun singkat tapi informasi keadaan masyarakat nelayan disana yang secara emosi merasa susah tapi secara materi sebetulnya aman, lalu kondisi alam dan bagaimana hubungan nelayan dengan pemerintah, tergambarkan.

    BalasHapus