Popular Content

Jumat, 24 Juni 2016

On 6/24/2016 10:27:00 PM by KSG UI in , , ,    No comments
Oleh: Ilda Hamidah (Departemen Penulisan)

Desa Sirnaresmi berada di Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Pada tanggal 24 April 2016, desa tersebut menjadi salah satu lokasi Kuliah Lapang Mahasiswa Geografi angkatan 2014. Alasan pemilihan lokasi tersebut karena desa Sirnaresmi merupakan desa adat yang cukup unik. Selain itu objek-objek kajian seperti geologi, hidrologi, tanah, geomorfologi, penggunaan tanah, dan aktivitas manusia yang ada di desa tersebut cukup menarik untuk di observasi. Salah satu yang cukup menarik perhatian ketika menginjakkan kaki di desa tersebut adalah rumah-rumahnya yang mayoritas masih berbentuk rumah panggung dengan bahan bambu dan ijuk. Suasana di Desa Sirnaresmi masih asri dan sejuk.

Desa Sirnaresmi terbagi menjadi tujuh dusun yaitu Dusun Sinarresmi, Cibongbong, Cibalandongan, Cimapag, Situmurni, Cipulus, dan Sukamulya. Di desa ini terdapat tiga kasepuhan diantaranya Kasepuhan Sinarresmi yang berada di Dusun Sinarresmi, Kasepuhan Ciptamulya yang berada di Dusun Cibongbong, dan Kasepuhan Ciptagelar yang berada di Dusun Sukamulya. Ketiga kasepuhan tersebut masih mempunyai ikatan keluarga, dan ketiganya masih melaksanakan adat sama yang telah dianutnya secara turun temurun. Masing-masing kasepuhan di pimpin oleh seorang kepala adat yang biasa dipanggil Abah.

Adat yang masih dijalankan utamanya adalah di bidang pertanian, khususnya padi. Adat ini telah dilaksanakan selama kurang lebih 437 tahun, nomaden di sepuluh tempat diantaranya Bogor, Bojong, Ciptarasa, Pasir Jengjing dll. Waktu dan penentuan lokasi berpindahnya Kasepuhan tidak menentu karena perpindahan tersebut dilakukan berdasarkan wangsit yang diterima oleh Abah. Pertanian di desa ini sangat dijaga khususnya padi lokal, sehingga perawatan padi sama sekali tidak menggunakan pestisida atau bahan kimia lainnya. Sampai saat ini terdapat 68 varietas padi yang masih ditanam. Padi yang paling utama dan paling dipertahankan adalah huma, yaitu padi darat yang selama masa tanamnya tidak memerlukan air.

Ketiga kasepuhan ini meyakini bahwa padi merupakan anugerah yang diberikan oleh alam, sehingga padi sangat disakralkan. Padi hanya boleh ditanam sekali dalam setahun. Mereka menganggap jagat raya adalah ibu dan langit adalah bapaknya. Sehingga apabila dianalogikan, tidak mungkin orang tua melahirkan anak lebih dari sekali dalam setahun. Kualitas padi di desa ini lebih diutamakan dibanding kuantitas. Sehingga dalam perawatannya hanya mengandalkan unsur-unsur alam. Terdapat ritual-ritual khusus yang harus dijalankan selama masa padi itu ditanam hingga saat akan dimasak menjadi nasi, seperti upacara

Ngadiukeun yang dilakukan ketika akan memasukkan padi ke dalam Leuit. Leuit adalah lumbung padi, tempat menyimpan padi yang telah dijemur di lantayan. Di desa ini leuit sangat banyak dan mudah ditemukan di sepanjang jalan. Ritual unik lainnya ketika menanak nasi harus dilakukan oleh seorang wanita dengan mengenakan pakaian berwarna putih (seperti kebaya atau sejenisnya), dan tidak boleh bicara selama proses menanak nasinya. Selain itu ketika makan kita dilarang menyisakan sebutir nasi pun di piring karena proses penanaman padi hingga menjadi nasi bukanlah hal yang mudah, sehingga kita harus menghargai itu.

Gambar 1. Leuit (Lumbung Padi) Gambar 2. Lantaian (tempat menjemur padi)
(Sumber: Dokumentasi lapangan, 2016). 

Selain ritual-ritual khusus untuk padi, masih banyak lagi ritual seperti ritual pernikahan, khitanan, lahiran, hari-hari besar dll. Upacara yang paling menarik minat warga salah satunya adalah upacara Seren Taun yang dilakukan setahun sekali sebagai ucapan rasa syukur atas keberhasilan panen padi. Adat yang tak kalah menarik lainnya yaitu harus mengenakan kain sarung untuk wanita, dan iket kepala untuk laki-laki. Kain merupakan simbol untuk menutupi aurat, sedangkan iket merupakan simbol bahwa seseorang harus bisa mengikat atau mengendalikan hawa nafsunya. Kain dan iket kepala wajib dikenakan ketika memasuki Imah Gede di tiap kasepuhan. Imah Gede merupakan tempat tinggal Abah (kepala adat) dan keluarganya, di Imah Gede pula biasanya mereka menyambut kedatangan tamu-tamunya. Terdapat bangunan-bangunan khusus yang pasti dimiliki oleh tiap kasepuhan di Desa Sirnaresmi, seperti Imah Gede yang harus menghadap ke utara, Leuit Si Jimat, Podium Adat, Ajeng Wayang Golek, Balai Pertemuan, dan Mushola.

Gambar 3. Imah Gede Kasepuhan Ciptagelar Gambar 4. Leuit Si Jimat
(Sumber: Dokumentasi lapangan, 2016) 

Kepemilikan tanah di Desa Sirnaresmi mayoritas merupakan tanah milik adat. Warga diperbolehkan membangun rumah di tanah milik adat tersebut dengan syarat rumah yang dibangun harus mengikuti aturan adat (rumah panggung dengan bambu). Begitupula dengan kepemilikan sawah yang mayoritas adalah milik Abah. Sawah-sawah tersebut dikerjakan secara gotong royong oleh warga atau biasa disebut sawah rurukan, oleh karena itu pekerjaan utama warga di Desa Sirnaresmi mayoritas adalah petani. Padi hasil panen milik Abah dilarang untuk diperjualbelikan.

Aturan-aturan adat yang ada wajib untuk diterapkan. Jika dilanggar, maka orang tersebut biasanya akan mendapatkan sebuah peringatan. Contoh peringatan yang pernah dialami oleh salah seorang warga yaitu orang tersebut tiba-tiba mendapatkan luka kecil di tubuhnya yang sangat sakit dan sulit untuk disembuhkan secara medis. Ternyata setelah orang tersebut dibawa ke dukun, diketahuilah bahwa orang itu telah melanggar aturan dengan membangun rumah menggunakan bata, semen, keramik, dan genteng di tanah milik adat. Dalam menjalankan tugasnya, Abah memiliki tujuh belas tukang yang masing-masing memiliki tugas berbeda, diantaranya bengkong, canoli, dukun, paraji, tukang beberes dll.

Ruang kelola di Desa Sirnaresmi terbagi menjadi tiga yaitu hutan titipan, hutan tutupan, dan hutan garapan. Hutan titipan biasa disebut sebagai hutan larangan karena warga sama sekali tidak boleh menyentuh atau memasuki hutan tersebut. Hutan tutupan adalah hutan yang boleh digarap oleh warga namun harus izin terlebih dahulu secara adat, biasanya hutan tutupan ini lebih digunakan untuk membangun rumah. Sedangkan hutan garapan adalah hutan tempat warga bekerja sehari-hari seperti sawah, ladang, dan kebun.

Jarak antara Kasepuhan Sinarresmi dan Kasepuhan Ciptamulya cukup dekat, bisa ditempuh hanya dengan waktu beberapa menit saja. Sedangkan untuk menuju Kasepuhan Ciptagelar, jarak yang harus ditempuh sekitar empat belas kilometer dari Kasepuhan Sinarresmi. Jalan menuju Kasepuhan Ciptagelar merupakan jalan batuan dengan medan berbukit hingga bergunung sehingga perlu seseorang dengan keahlian khusus jika ingin ditempuh menggunakan kendaraan seperti motor atau mobil. Meskipun jalanannya sulit ditempuh, namun ada suguhan pemandangan yang indah sepanjang perjalanan seperti pegunungan dan sungai yang dapat memanjakan mata kita.

Gambar 5. Pemandangan Desa Sirnaresmi Gambar 6. Sungai Cibarengkok di Desa Sirnaresmi
(Sumber: Dokumentasi lapangan, 2016) 

Meskipun adat istiadat sangat teguh dijalankan, namun warga di desa ini tidak menutup diri terhadap perkembangan teknologi. Mereka menggunakan handphone, gadget, tv, radio, dan akun sosial media pada umumnya. Bahkan di Kasepuhan Ciptagelar, Abah Ugi (Kepala Adat) memiliki drone, membuat stasiun televisi dan radio sendiri yang digunakan untuk menyampaikan informasi kepada warga desa ketika ada acara atau kegiatan penting yang akan diselenggarakan. Jadi memang tidak ada larangan sama sekali untuk mengikuti perkembangan teknologi, karena masing-masing kasepuhan pun menggunakannya bahkan memiliki web dan akun instagram untuk berbagi informasi.

Merupakan pengalaman menarik bisa tinggal di Desa Sirnaresmi. Adat yang diterapkan dan suguhan pemandangan yang masih alami menjadi daya tarik tersendiri bagi desa adat tersebut, sehingga kasepuhan-kasepuhan di Desa Sirnaresmi ini sering dikunjungi oleh wisatawan hampir setiap hari, baik wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin mengetahui lebih dalam adat di kasepuhan tersebut. Menurut Abah Asep (kepala adat Kasepuhan Sinarresmi), untuk dapat benar-benar memahami adat di desa tersebut, perlu waktu minimal setahun tinggal disana.

0 comments:

Posting Komentar