Popular Content

Senin, 28 November 2016

On 11/28/2016 06:36:00 AM by KSG UI in , , ,    No comments
Oleh: Annisa Hasanah (Departemen Penulisan)


“Hujan berkali-kali mengguyur lautan di mana kapal kecil kami berusaha mengapung di atasnya. Di permukaan Selat Sunda ini, raga kami seakan menyatu dengan gempuran ombak, menghempas ke kanan dan kiri. Terbayang bagaimana ngerinya kala Krakatau menggerakkan gelombang hingga menyapu seluruh pesisir Sumatera dan Jawa pada tahun 1883. Ya, dalam badai itu kami seakan mengarungi dimensi waktu. Kembali merasakan perkasanya sang ibu, yang kini telah pergi setelah menghancurkan dirinya sendiri dengan letusan katastropis.”

Letusan Krakatau diyakini sebagai letusan gunungapi terdahsyat yang pernah terjadi dan terekam oleh catatan manusia modern. Letusan bertipe plinian tersebut terjadi pada 26-28 Agustus 1883 di kompleks Gunung Krakatau yang berada di Selat Sunda. Kompleks vulkanik Krakatau pra-erupsi 1883 terdiri atas empat pulau, yaitu: Krakatau, Cupu (Polish Hat), Pulau Sertung (Varlaten Eiland) dan Pulau Panjang (Lang Eiland). Krakatau merupakan pulau yang paling besar dengan tiga deret gunungapi dari utara ke selatan, yaitu: Perbuatan, Danan dan Rakata. Erupsi Krakatau pada 1883 menyebabkan hancurnya gunungapi Danan dan Perbuatan, dan melenyapkan sebagian besar Rakata. Pasca erupsi Krakatau, pembentukkan kaldera menyisakan tiga pulau yaitu Sertung (1.060 ha), Rakata (1.400 ha), dan Panjang (320 ha). Setelah beritirahat sejak tahun 1884, pada tahun 1927 terdeteksi kegiatan vulkanik baru yang terjadi di pusat kaldera pada kedalaman 188 m dan sekaligus menandai lahirnya Gunung Anak Krakatau pada 20 Januari 1929. Gunungapi muda ini tumbuh dengan laju ±4 m per tahun dan tergolong gunungapi yang sangat aktif.

Gambar 1. Kawasan Kepulauan Krakatau Saat Sebelum dan Pasca Erupsi Tahun 1883
Sumber: https://jefrihutagalung.wordpress.com/2014/04/30/sejarah-gunung-krakatau-hingga-munculnya-anak-krakatau/

KSG UI 2016 mengadakan Fun Research di kawasan Komplek Gunung Anak Krakatau yang diselenggarakan pada 28-30 Oktober 2016.  Kegiatan ini diikuti oleh 51 orang peserta yang terdiri dari anggota aktif KSG UI, alumni dan umum. Rute perjalanan dimulai dari Kampus UI Depok-Pelabuhan Merak (Banten)-Pelabuhan Bakauheni (Lampung Selatan)-Dermaga Canti-Pulau Sebuku. Perjalanan dari Depok hingga Pulau Sebuku memakan waktu sekitar 8 jam. Pulau Sebuku merupakan pulau tak berpenghuni yang berada tepat di selatan Kabupaten Lampung Selatan, yang terbagi menjadi Pulau Sebuku Besar dan Pulau Sebuku Kecil. Bergeser ke selatan dari Pulau Sebuku terdapat Pulau Sebesi. Pulau Sebesi merupakan Pulau berpenghuni yang memiliki fasilitas pendukung wisata seperti homestay, dermaga lokal dan penduduk yang telah terbiasa dengan turis. Di pulau seluas ±16 km2 ini terdapat gunung yang puncaknya hampir selalu ditutupi kabut, gagah menjulang sebagai background dari segala kegiatan di dalam pulau. Listrik di Pulau Sebesi hanya mengalir pada jam 18.00-24.00 WIB sehingga direkomendasikan untuk mempersiapkan daya listrik portable untuk mengisi perangkat elektronik pribadi.

Gambar 2. Peta Kompleks Kepulauan Krakatau dan Sekitarnya
Sumber: http://volcanoindonesia.blogspot.co.id/2013/10/krakatau-1883.html

Gunung Anak Krakatau terpantau sering mengeluarkan material vulkaniknya, bahkan dalam sehari dapat terjadi beberapa kali letusan kecil. Kondisi ini menyebabkan Gunung Anak Krakatau diberi status Waspada hingga saat ini dan kegiatan di sekitarnya dibatasi. Pulau Anak Krakatau memiliki daya tarik berupa variasi landscape yang dapat ditemui, yaitu gunungapi, hutan dan pantai. Inilah sebabnya kegiatan pariwisata merupakan kegiatan yang menjadi andalan bagi kawasan Pulau Krakatau, namun sejak tahun 2011 wisatawan tidak diperbolehkan mendaki hingga puncak Anak Krakatau karena dikhawatirkan terjadi erupsi di saat yang tidak terduga. Untuk mengakses Pulau Anak Krakatau dapat dimulai dari Pulau Sebesi dengan waktu tempuh 90-120 menit dengan kapal motor. Pulau Anak Krakatau ini termasuk dalam kawasan Cagar Alam Krakatau yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Lampung.

Pantai di Pulau Anak Krakatau memiliki pasir berwarna hitam yang merupakan hasil endapan material vulkanik hasil erupsi. Pasir yang terbawa dan terendapkan oleh gelombang laut berperan dalam memberi warna keruh pada laut di sekitarnya. Oleh karena itu, bagi pencari spot pantai yang indah, pantai ini bukanlah tujuan yang tepat. Vegetasi pesisir di kawasan ini berkembang baik dengan membentuk zonasi secara horizontal dari wilayah intertidal ke arah daratan, di antaranya adalah tumbuhan menjalar dari jenis Ipomoea pes-caprae atau yang dikenal dengan tapak kambing. Masuk ke dalam pulau, terdapat hutan dataran rendah yang memberi habitat bagi satwa reptil biawak (Varanus albigularis). Saat survei lapangan, ditemukan salah satu spesies tersebut yang panjang tubuhnya mencapai 2 meter. Kondisi abiotik di pulau ini pun tak kalah unik, yaitu adanya sumur airtanah yang bersuhu hangat. Airtanah ini berjumlah terbatas dan dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik di pulau tersebut.



Gambar 3. Pantai di Pulau Anak Krakatau (atas) dan Gunung Anak Krakatau (bawah)
Sumber: Dokumentasi pribadi

Trekking selama ±1 jam dilakukan demi melihat puncak Gunung Anak Krakatau dari dekat. Jalur trekking ini melewati tebing-tebing terjal dengan material penyusun berupa pasir dan batuan lepas yang mudah longsor. Sangat dianjurkan mengenakan sandal atau sepatu khusus trekking supaya tidak tergelincir saat mengunjungi kawasan ini, karena lebar jalur trekking sangat terbatas ditambah dengan tebing yang mengapit di kanan kiri. Ketika tiba di ketinggian sekitar 200 m, laju angin bertambah kencang sehingga harus semakin berhati-hati. Vegetasi di kawasan Gunung Anak Krakatau tidak dapat berkembang maksimal karena sering terjadi erupsi. Suksesi alam yang terjadi secara alami terganggu oleh aktivitas letusan sehingga tidak dapat mencapai kondisi maksimum. Hal ini dapat dilihat dari pola keruangan persebaran vegetasi perintis yang ditemui pada lereng-lereng yang sejajar dengan arah aliran piroklastik. Lereng yang menjadi arah aliran piroklastik cenderung gersang, dan hanya terdapat vegetasi perintis yang menyebar di beberapa titik. Selain vegetasi, pada Gunung Anak Krakatau ini terlihat jelas adanya endapan piroklastik dan lava yang menjadi bahan penyusun tubuhnya. Warna dari endapan tersebut adalah merah kecoklatan, dengan komposisi kimia berupa magma basa. Aktivitas Gunung Anak Krakatau untuk saat ini belum menjadi ancaman serius karena jangkauan lontaran batu pijar hanya sebatas pada sekitar Pulau Anak Krakatau, dengan tinggi tiang asap berkisar antara 100-1000 m di atas puncak dengan radius 3 km dari pusat erupsi. Dengan segala potensi bahaya yang dimiliki Gunung Anak Krakatau, di sisi lain kawasan ini menyimpan potensi besar untuk bidang riset.

Gambar 4. Endapan di Gunung Anak Krakatau (atas) dan vegetasi perintis (bawah)
Sumber: Dokumentasi pribadi

Selain kompleks Krakatau, Selat Sunda memiliki gugusan kepulauan lainnya yang memiliki daya tarik wisata maupun keberagaman biodiversitas yang tidak kalah memesona. Laut yang berada di sekitar gugusan kepulauan merupakan habitat bagi terumbu karang, yang artinya keberagaman terumbu karang dan ikan di kawasan ini cukup tinggi. Spot snorkeling yang terkenal di sekitar kawasan Pulau Krakatau di antaranya adalah Pulau Sebuku Besar dan Lagoon Cabe. Lagoon Cabe berada di kawasan Gunung Rakata, dengan air jernih dan tampilan gradasi hijau toska dari kejauhan. Lagoon cabe dinilai banyak pihak sebagai spot snorkeling terbaik yang berada di dalam Cagar Alam Krakatau. Sayangnya, Gunung Anak Rakata tidak memiliki garis pantai yang landai, melainkan hanya garis karang sehingga tidak dapat digunakan sebagai aktivitas wisata.

Melesat ke arah timur dari Pulau Sebesi, terdapat satu pulau kecil yang menjadi primadona bagi pelancong, yaitu Pulau Umang-umang. Pulau ini sangat cocok untuk aktivitas island hopping. Pulau Umang-umang dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dengan kapal motor dari Pulau Sebesi. Pantai bagian timur Pulau Umang-umang memiliki gradasi warna biru yang memanjakan mata, dengan hamparan pasir putih nan halus bak tepung. Di bagian barat pulau terdapat pantai dengan bebatuan granit besar berwarna gelap. Di sisi barat ini juga terdapat sedikit vegetasi mangrove. Bebatuan granit di sebelah barat ini menjadi spot terbaik untuk mengamati sunset yang bersandingan dengan panorama gunung dari Pulau Sebesi.


Gambar 5. Kawasan Lagoon Cabe (atas) dan Pantai di Pulau Umang-umang (bawah)
Sumber: Dokumentasi pribadi

Pada akhirnya, pariwisata memang menjadi sarana yang penting dalam proses konservasi. Kompleks Krakatau seakan menyajikan paket yang lengkap dalam menjual keindahan alamnya, mulai dari dunia bawah laut, pantai hingga gunung. Keindahan ini tentunya bukan untuk dinikmati semata, namun juga sebagai ladang pengetahuan yang menunggu digarap oleh manusia. Kita perlu berilmu, supaya dapat menghindari terulangnya sejarah katastropisme yang ditimbulkan oleh Krakatau 1883 silam. Untuk berilmu, kita tidak boleh malas untuk belajar dari mana saja dan dari siapa saja.

Referensi:

0 comments:

Posting Komentar